RSS

Jatuh Cinta atau Belajar untuk Mencintai?

Banyak orang yang beruntung bisa jatuh cinta pada seseorang, dan membangun hubungan yang kuat dari situ. Tetapi banyak pula pasangan yang mendapati bahwa cinta harus dipupuk dan dipelajari. Bagi mereka yang masih mencari pasangan, sulit untuk menentukan, apakah harus menunggu hingga jatuh cinta pada seseorang, ataukah berkomitmen dengan seseorang Anda yang kenal dan belajar mencintai. 

Louise Rafkin, penulis buku Other People's Dirt, banyak mewawancarai pasangan-pasangan dan mengisahkan kisah cinta mereka di kolom mingguan di harian San Francisco Chronicle. Ia mempertanyakan dua pilihan tersebut, dan bagaimana mendapatkannya dalam kolom Modern Love di harian The New York Times. 

"Bertahun-tahun saya sendiri telah melalui pengalaman berkencan, bertemu seseorang, lalu tak punya siapa-siapa, hingga berkencan lagi. Namun saya masih punya pertanyaan, bagaimana orang tahu dengan pasti bahwa pasangan mereka adalah yang terbaik? Atau mereka tidak tahu, dan hanya memutuskan?" katanya. 



Penelitian Rafkin lalu memperkenalkannya pada sejumlah pasangan. Beberapa di antaranya berkenalan ketika duduk berdampingan di atas pesawat, atau ketika terlibat dalam kecelakaan kecil. Pasangan-pasangan ini mengalami kisah cinta pada pandangan pertama. Satu pasangan menikah bahkan menjalin hubungan akibat masalah di imigrasi, dan meskipun pernikahan diawali tanpa cinta, perasaan ini tumbuh berkat persatuan mereka. 

Dalam pengamatan Rafkin, pasangan ini terlihat bahagia dan saling mencintai, seperti halnya pasangan kekasih lainnya. Karena itu Rafkin percaya bahwa keputusan untuk belajar mencintai memang layak dicoba. Jika tidak mencoba, Anda tak pernah tahu bila ternyata pria yang Anda kenal itu memiliki sifat-sifat dan latar belakang yang Anda inginkan, bukan? Untuk Anda yang terbiasa membina hubungan setelah jatuh cinta terlebih dulu, konsep belajar mencintai ini memang akan sulit. 

Menurut Dr Robert Epstein, peneliti dan mantan pemimpin redaksi situs Psychology Today, konsep jatuh cinta berangkat dari kisah dongeng. "Mereka menciptakan mitos yang sangat kuat. Mitos mengenai 'The One' adalah kekeliruan lain yang sangat merusak. Kita percaya bahwa 'The One' sudah dipersiapkan untuk kita, asal kita bisa menemukannya. Begitu kita menemukan The One, kita mengira dia tidak akan pernah berubah, dan begitu pula kita," papar Epstein. Mitos ini, menurutnya tak baik untuk dijadikan pegangan. Sebab, hal itu memengaruhi cara kita menyeleksi calon pasangan. 

Jika Anda berpikir Anda mencintai seseorang, Anda jatuh cinta dengan versi ideal dari orang tersebut. Anda jatuh cinta dengan rasa cinta itu sendiri. Ketika harapan-harapan kita dirusak, entah karena pasangan kita selingkuh, atau menjadi gendut, atau tak mau lagi berhubungan dengan kita, kita menjadi marah dan depresi. Kita jarang mau berusaha untuk memelihara hubungan itu sendiri. Ketika kita menerima bahwa metode pencarian kita terhadap cinta tidak berhasil, masih adakah cara lain yang bisa memberikan hasil? 



Menurut Epstein, 60 persen dari perkawinan di dunia ini diatur oleh orangtua, atau mak comblang. Kemungkinan, setengah dari perkawinan ini berjalan karena orang-orang di dalamnya belajar untuk saling mencintai, seiring berjalannya waktu. Daya tarik fisik memang penting, khususnya pada awal hubungan. Namun Anda juga perlu tahu bagaimana membedakan nafsu dari cinta. 

"Ketika ketertarikan fisik terlalu kuat, hal itu bisa membutakan. Banyak orang yang mengira mereka sedang jatuh cinta, sebenarnya hanya bernafsu," tutur penulis buku The Case Against Adolescence ini. Anda perlu menerima bahwa tidak ada Mr Right yang ditakdirkan untuk kita, begitu pula konsep tentang soulmate. Anda perlu membuka mata di sekitar Anda dengan wawasan baru, asumsi baru, dan ketrampilan baru. 

"Saya tidak percaya Anda bisa jatuh cinta pada orang yang sama sekali tidak Anda kenal, tapi memang ada orang-orang yang bisa menciptakan cinta yang awet," kata Epstein. "Kita perlu berpikir apakah kita percaya bahwa cinta itu sesuatu yang gaib, sesuatu yang mistis, yang tidak dapat kita kontrol; ataukah ada cara bagi kita untuk belajar mencintai." 

Cinta yang penuh hasrat, telah menjadi komoditi, yang dijual kepada kita oleh para pembuat film, penulis novel, dan pengarang lagu. Sayangnya, hal itu dijual pada kita dengan cara yang tidak realistis dan tidak dapat dijangkau oleh kebanyakan orang. Bagaimana dengan Anda, bersediakah untuk belajar mencintai?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cara Bicara Cinta Tanpa Kata-Kata

Jangan pernah menyepelekan ekspresi cinta. Jika pun Anda tidak tahu cara mengungkapkan cinta, kebiasaan baik ini bisa dilatih dan diupayakan. Tujuannya agar hubungan cinta dengan pasangan tetap hangat dan membuat pasangan merasa dicintai. Psikiater dari klinik Angsamerah, dr Eka Viora, SpKJ, menjelaskan ungkapan cinta kepada pasangan bisa disampaikan melalui kata maupun perilaku. Jika cinta ibarat nyala api, ungkapan cinta adalah bahan bakar yang membuat nyala api ini tetap terjaga dan tidak akan meredup. 

Mengungkapkan cinta kepada pasangan menikah menjadi penting, kata dr Eka, karena jika hubungan berpasangan minim ungkapan cinta dampaknya meluas ke diri pasangan maupun ke hubungan itu sendiri. Jika pasangan tak bisa menangkap keinginan atau kebutuhan pasangan mengenai pernyataan cinta, pasangan akan mencarinya di tempat lain. Tidak adanya ungkapan cinta dalam hubungan pasangan menikah, dalam waktu panjang, juga memicu perceraian bahkan percobaan bunuh diri. "Kalau tidak ada intervensi, salah satunya dengan berkonsultasi, masalah hubungan berpasangan akan berujung pada perceraian. 


Bahkan ada pasien yang datang karena memendam masalah sekian lama. Pada usia 66 tahun, perempuan ini datang konsultasi dengan masalah hubungan pernikahan yang disebabkan kurangnya ungkapan kasih sayang dari pasangannya. Ia bahkan sudah melakukan percobaan bunuh diri karena masalah yang dialaminya," jelas dr Eka, usai talkshow bertema "Mengungkapkan Cinta pada Pasangan dan Anak" yang diadakan Kompas Female dan klinik Angsamerah di Supermal Karawaci, Tangerang, Minggu (13/2/2011) lalu. 

Kalau Anda merasakan masalah serupa, merasa kurang dicintai karena minimnya ungkapan cinta, jangan menyerah. Anda dan pasangan masih bisa mengupayakan kehangatan hubungan. Toleransi menjadi kunci utamanya, memahami pasangan dengan melihat kembali pola asuh di keluarganya. Karena menurut dr Eka, anak yang tumbuh dengan minim ungkapan cinta cenderung tidak sensitif terhadap orang lain dan tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengungkapkan cinta. Anda juga tak harus menuntut pasangan mengungkapkan cinta, namun lebih kepada mencari solusi bersama. 

Cara paling sederhana, mulailah dengan membuat catatan kecil mengenai perasaan cinta kepada pasangan, atau berikan kejutan cinta apapun bentuknya. Belajarlah berlatih mengungkapkan cinta secara verbal secara bertahap bersama pasangan, saran dr Eka. Ada beberapa cara lain untuk mengatakan "Aku menyintaimu" tanpa kata-kata. Tujuannya untuk menciptakan kehangatan dan kenyamanan karena dia merasa dicintai Anda. Coba saja praktekkan cara dari dr Eka ini: 

  1. Genggam tangan pasangan, ini menunjukkan bahwa kita selalu ingin dekat dengannya. Kontak tangan berbicara tentang kehangatan dan persatuan. 
  2. Rangkul dan peluk pasangan, karena transmisi panas memeluk akan berbicara tentang perlindungan. 
  3. Tatap mata pasangan saat berbicara dengannya, karena dengan mempertahankan kontak mata ketika berkomunikasi, dia akan merasakan adanya ketulusan dan rasa percaya. 
  4. Jangan ragu memberikan ciuman sepanjang waktu, pagi, siang, sore, malam hari. Ciuman juga bisa dikonversikan sebagai kebiasaan sehari-hari. Bukan hanya ciuman erotis tetapi lebih kepada ciuman lembut di pipi, dahi, tangan, mata, dan bahunya. Pasangan akan merasa dicintai sepanjang hari dengan cara ini. 
  5. Peka terhadap pasangan yang sibuk seharian. Saat pasangan sibuk, berikan perhatian kepadanya. Hadiahkan pijatan lembut di pundak, punggung, atau kaki. Hadiah dari Anda membuat pasangan lebih rileks dan membantunya mengurangi stres. 
  6. Berikan kejutan dengan catatan cinta, puisi cinta, bunga, atau makan malam romantis, tuliskan sesuatu melalui akun jejaring sosialnya, atau ciptakan perjalanan yang tak pernah diduganya namun begitu didambanya. Laki-laki umumnya lebih sulit mengungkapkan cinta, namun kondisi ini bisa berubah jika Anda dan pasangan mau mengubahnya untuk menciptakan hubungan yang jauh lebih hangat dan sehat.

Sumber : Kompas.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Si Dia Berhenti "Berjuang" untuk Cinta?

Kehidupan saat pacaran dan saat menikah seringkali jauh berbeda. Di masa pacaran, semua hal dan perbuatan pasangan akan terasa lebih indah dan penuh kebahagiaan. Setelah menikah, banyak pasangan justru mengeluhkan pasangannya karena menunjukkan sikap yang berbeda dengan saat pacaran. Hal ini biasanya paling dirasakan oleh kaum perempuan.

Setelah menikah, kaum perempuan umumnya merasakan sang suami lebih cuek dan tidak lagi melakukan hal - hal romantis seperti saat pacaran. Tak jarang hal ini membuat Anda mengira rasa cintanya sudah pudar dan dia tak lagi mencintai Anda. Kondisi ini bisa diasumsikan sebagai suatu kondisi di mana pasangan dinilai sudah berhenti "berjuang" untuk cinta.

"Yang paling parah adalah mereka menganggap pasangan mereka selingkuh, sehingga mereka tidak cinta lagi dan membuat sikapnya berubah," tambah seorang konsultan pernikahan, Indra Noveldy, dalam seminar tentang pernikahan di Hotel Maharadja, Jakarta, Minggu (13/5/2012) lalu.

Menurut Indra, perubahan sikap pasangan yang telah menikah bukan disebabkan karena pasangan tak cinta lagi atau akibat perselingkuhan. Sebab, tak selamanya kedua hal tersebut menjadi penyebab perubahan sikap pasangan. Sebelum menilai pasangan Anda berselingkuh atau tak cinta lagi, sebaiknya berkacalah terlebih dahulu pada diri Anda sendiri. Jangan-jangan Anda lah yang menjadi salah satu penyebabnya. Berikut adalah hal - hal yang mungkin menjadi penyebabnya.



1. Anda tak layak diperjuangkan

"Pria merupakan tipe manusia pemburu, mereka akan mencari berbagai hal yang menarik dan belum mereka dapatkan, termasuk perempuan," papar Indra. Ketika pacaran, seringkali perempuan bersikap jual mahal atau berusaha untuk berdandan secantik mungkin agar dipuji oleh pasangannya. Namun ketika menikah, banyak perempuan yang merasa hal ini tidak perlu dilakukan lagi.

Misalnya, Anda hanya menggunakan daster saja di rumah. Secara tak langsung, penampilan Anda tersebut membuat jiwa "pemburu" pria jadi melemah dan membuat pria berusaha untuk mencari hal lain yang lebih menarik untuk "diperjuangkan". Namun, hal ini tak lantas membuatnya ingin berselingkuh. Pelariannya bisa saja dengan menjalani hobi barunya atau kegiatan lain yang lebih menarik dan membuatnya menomorduakan Anda.

Jika hal ini terjadi, tunjukkan bahwa diri Anda masih layak diperjuangkan oleh pasangan, bahkan setelah menikah. Salah satu caranya adalah dengan tetap memperhatikan penampilan dan menonjolkan sisi positif dan menarik dari diri Anda.


2. Bersikap cuek pada suami

Coba lihat dalam diri sendiri, apakah Anda sudah memberikan perhatian yang cukup untuk pasangan? Seringkali perempuan lah yang lebih dulu memperlihatkan sikap cuek kepada pasangannya. "Kadang perempuan bersikap take it for granted, dimana mereka bersikap cuek karena menganggap si pria sudah mutlak menjadi miliknya," tukasnya.

Kadang keyakinan bahwa pasangan sudah seharusnya tetap memperlakukan dirinya seperti saat pacaran ini membuat perempuan berhenti berusaha membahagiakan pasangannya. Sikap cuek dari perempuan inilah yang kemudian menyebabkan pria juga kurang memedulikan sikap mesra dan malas untuk kembali berjuang. Indra menambahkan bahwa dalam hal ini perempuan lebih banyak menuntut untuk diperhatikan, tanpa memberikan perhatian yang sama pada pasangannya.


3. Egois

Perempuan seringkali lebih ingin dimengerti dan kurang mau mengerti kebutuhan pasangannya. Mereka sering menutut pasangan untuk bersikap sesuai keinginannya, namun tidak memberikan hal yang sama. "Perempuan juga kurang bisa mengenali bagaimana sifat dirinya dan terlalu banyak ngomel," kilahnya.

Ngomel sebenarnya hal yang wajar, hanya saja perempuan sering marah-marah pada pasangan karena menganggap pasangannya tidak seperti apa yang diinginkannya. Indra menyarankan untuk mengurangi sikap egois ini dan mulailah untuk berkaca pada diri sendiri apakah Anda sudah memberikan perhatian yang sama dan lebih banyak memahami pasangan sebelum menuntut hal yang sama dari pasangan. Bagaimana pun, pria juga butuh diperhatikan dan disayang, lho!

Sumber : Kompas.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nge-geng boleh, asal...

Di jaman yang serba modern ini, tentunya istilah nge-geng sudah tak asing lagi di telinga kita, terutama di kalangan remaja. Entah itu di lingkungan sekolah, di rumah, atau di mana pun, yang namanya teman se-geng itu pasti ada saja. Dengan mereka, kita bisa kumpul, main, belajar, dan juga jalan - jalan bareng ke mana saja. Kita pun bisa mencurahkan seluruh perasaan kita ke mereka tanpa rasa sungkan. Hidup pun jadi lebih berwarna dan tidak membosankan bersama mereka.

Sedihnya, sekarang banyak geng yang salah kaprah. Banyak geng yang dibentuk hanya untuk sekadar gaya - gayaan, bahkan ada pula yang menggunakannya untuk melegalkan perilaku kekerasan. Wualah...

Seorang psikolog perkembangan remaja Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Esri Rahayu Astuti pun membenarkan fenomena geng remaja yang sarat kekerasan ini. Ia pun mengatakan bahwa fenomena ini terjadi bukan hanya di kota besar seperti Jakarta dan Bandung, tetapi juga di kota-kota kecil lain di Indonesia. Sangat menyedihkan.

Bicara soal geng, menurut Esri, pada usia remaja, kebutuhan untuk nge-geng itu lumrah. ”Bahkan, buat sebagian orang jadi penting karena pada usia remaja, mereka butuh pengakuan. Geng inilah yang membuat mereka bisa tampil dan diakui, sekaligus untuk menunjukkan keberadaan mereka di lingkungannya. Punya geng jadi cara supaya mereka dianggap gaul,” kata Esri melanjutkan penjelasannya.



Selain itu, nge-geng juga bisa dijadikan sebagai sarana positif bagi remaja untuk berbagi masalah yang mereka hadapi. Selama kegiatan yang dilakukan positif, pada usia dewasa nanti, kebiasaan itu akan berhenti dengan sendirinya karena faktor usia. ”Dengan bertambahnya usia, kebutuhan nge-geng akan hilang karena rasa percaya diri mereka sudah kuat,” tambahnya.

Sayangnya, kalau sudah nge-geng, kadang kala para anggotanya jadi punya nyali ngelakuin dan nyobain apa saja. ”Kalau mereka nyoba hal - hal positif sih bagus. Tapi kalau mereka nyoba hal - hal negatif, ini salah besar.”

Hal positif, contohnya belajar berkelompok dan yang negatif, contohnya bersama - sama nyobain minuman keras, narkoba, atau malak.


”Kalau yang negatif-negatif ini enggak segera dihentikan, bisa keterusan. Apalagi kalau anggota gengnya dapat keuntungan dari perilaku negatif itu. Misalnya, malak biar punya duit,” tambahnya.

Bedanya sama geng yang berkegiatan positif, perilaku anggota geng yang negatif itu kalau dibiarkan tanpa kendali bisa keterusan sampai anggotanya berusia dewasa lho! Mau tahu jadi apa kalau keterusan? Ya jadi preman, kata Esri.

Maka, bagaimana pun pilihan kita dalam hal nge-geng atau memilih teman - teman yang sesuai itu, ada di tangan kita sendiri. Kita harus selalu waspada dan pilihlah teman yang memang memberikan pengaruh positif bagi kita. Apa iya sih kita mau punya masa depan sebagai preman? Enggak banget lah ya?! Jadi, mumpung hidup kita masih panjang dan masih bisa ketemu teman - teman baru, enggak perlu buru-buru bikin geng. Ya kan kawan - kawan semuanya?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Surat dari Aku, Januari 2070

Aku baru berusia 50 tahun, tapi penampilanku seperti seseorang berumur 85 tahun. Aku menderita gangguan ginjal serius, karena aku tidak minum cukup air. Aku takut aku tidak punya banyak waktu lagi untuk hidup. Aku adalah salah satu orang tertua di masyarakat ini.

Aku ingat ketika aku masih anak berumur 5 tahun, semuanya tampak berbeda. Ada banyak pohon di taman, rumah dengan kebun yang indah, dan aku bisa menikmati mandi selama setengah jam. Saat ini, kami menggunakan handuk dengan minyak mineral untuk membersihkan kulit kami. Sebelumnya, wanita memiliki rambut yang indah. Sekarang, kami harus mencukur kepala untuk menjaganya tetap bersih tanpa menggunakan air. Lalu, ayahku dulu mencuci mobilnya dengan air yang keluar dari selang. Sekarang, anakku tidak percaya bahwa air dapat digunakan dengan cara seperti itu.


Aku ingat bahwa dulu ada peringatan "HEMAT AIR !" di poster - poster, radio, dan TV, tapi tidak diperhatikan. Kami pikir air akan selalu tersedia untuk selamanya. Sekarang, semua sungai, danau, waduk, dan lapisan air bawah tanah kering atau terkontaminasi. Industri hampir berhenti dan pengangguran mencapai proporsi yang dramatis.

Desalinasi tanaman merupakan sumber utama tenaga kerja dan pekerja menerima sebagian dari gaji mereka dalam bentuk air minum. Serangan bersenjata di jalanan untuk satu jerigen air sangat umum terjadi dan 80% makanan saat ini adalah sintetik.


Sebelumnya, jumlah air yang direkomendasikan untuk minum orang dewasa adalah 8 gelas per hari. Saat ini, aku hanya diperbolehkan minum setengah gelas per hari. Kami sekarang harus mengenakan pakaian sekali pakai dan ini meningkatkan jumlah sampah.

Kami menggunakan septic tank sekarang, karena sistem pembuangan limbah tidak bekerja karena kurangnya air. Tampilan luar dari populasi sungguh mengerikan: berkerut, tubuh kurus karena dehidrasi, penuh luka yang disebabkan oleh radiasi ultra violet yang sekarang lebih kuat tanpa perisai pelindung dari lapisan ozon. Kanker kulit, infeksi gastrointestinal, dan saluran urine adalah penyebab utama kematian. Karena pengeringan yang berlebihan, kulit orang - orang muda yang berusia 20 tahun terlihat seperti 40 tahun.

Ilmuwan menginvestigasi, tetapi tidak ada solusi untuk masalah ini. Air tidak dapat diproduksi, oksigen juga terdegradasi akibat kurangnya pepohonan dan vegetasi, dan kapasitas intelektual generasi baru sangat terganggu. Morfologi spermatozoa pada pria telah berubah banyak. Akibatnya, bayi dilahirkan dengan defisiensi, mutasi, dan kelainan bentuk fisik.


Pemerintah mengharuskan kami membayar udara yang kami hirup, 137 m3 per hari untuk setiap orang dewasa. Orang-orang yang tidak mampu membayar akan diusir dari "Zona yang Berventilasi". Zona berventilasi berupa paru - paru mekanik yang sangat besar dengan tenaga matahari. Udaranya tidak berkualitas baik, tapi setidaknya orang bisa bernapas.

Di beberapa negara, di mana masih ada beberapa zona hijau dilintasi oleh sungai, tempat ini dijaga oleh tentara bersenjata berat. Air menjadi harta yang sangat didambakan, lebih berharga daripada emas dan berlian. Di mana aku tinggal, tidak ada pepohonan, karena jarang sekali hujan. Ketika terjadi presipitasi, itu adalah hujan asam. Musim telah terpengaruh oleh uji atom dan kontaminasi dari polusi industri abad ke-20 .


Kami telah diperingatkan untuk menjaga lingkungan, tapi tak ada yang peduli.

Anakku bertanya, "Ayah! Mengapa tidak ada air?" 

Kemudian, aku merasakan ada yang mengganjal di tenggorokanku! Aku tak bisa menahan rasa bersalah, karena aku termasuk dalam generasi yang berkontribusi menyebabkan kerusakan lingkungan. Sekarang anak - anak kami harus membayar harga yang sangat tinggi!

Aku sangat percaya bahwa dalam waktu yang singkat kehidupan di bumi tidak akan bertahan lagi, kerusakan alam saat ini mencapai tahap yang tidak dapat diubah.

Bagaimana aku ingin kembali dan membuat manusia mengerti.... 

Bahwa kita masih punya waktu untuk menyelamatkan Planet Bumi kita

Salam,
Aku, 57 tahun yang akan datang.

Sumber : https://www.facebook.com/groups/152671344773329/580348865338906/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bersama KOPHI Mencegah Banjir Lewat Lubang Biopori

     Banjir merupakan salah satu masalah besar di Jakarta, selain sampah yang terus menggunung. Banjir selalu melanda Jakarta setiap kali musim hujan. Entah apa yang terjadi sehingga air itu terus menggenang. Salah satu penyebab yang paling mungkin adalah kurangnya resapan air di Jakarta.

     Biopori sendiri merupakan suatu lubang resapan yang diisi oleh timbunan daun kering serta sampah organik lainnya dengan hasil samping berupa pupuk kompos untuk tanaman. Dengan timbunan sampah organik ini, cacing tanah diharapkan untuk datang dan menciptakan pori - pori kecil di tanah yang dapat dilalui oleh air hujan. Selain itu, cacing tanah yang datang bisa menggemburkan tanah tersebut dan mengubah daun - daunan kering menjadi pupuk kompos.


     Sebagai wujud nyata dalam rangka mencegah banjir di kawasan SMA Regina Pacis Jakarta, FORKOKIR bersama dengan KOPHI menyelenggarakan sebuah acara edukasi pembuatan lubang biopori di lapangan rumput SMA Regina Pacis Jakarta pada Sabtu, 23 Maret 2013 lalu. Di sana, para anggota FORKOKIR dibina dan dibimbing langsung oleh kakak-kakak dari KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) untuk mempelajari lebih jauh seputar biopori.

     Awalnya, seluruh anggota FORKOKIR dibekali pengetahuan dasar seputar biopori yang disajikan oleh kakak-kakak dari KOPHI. Mulai dari alat pembuat lubang biopori, penemu alat tersebut, cara membuat biopori, perawatan biopori, macam - macam biopori, hingga fungsi biopori dan bedanya dengan sumur resapan, semuanya dibahas dengan jelas dan sangat lengkap. Tak hanya sampai di situ, para peserta juga diperbolehkan bertanya kepada kaka k-kakak dari KOPHI perihal biopori dan hal - hal yang masih kurang jelas.


     Tak hanya belajar teori, pada hari itu juga, anggota FORKOKIR didampingi oleh kakak -kakak KOPHI langsung mempraktikan ilmu yang baru saja didapat dengan cara membuat lubang biopori bersama-sama! Mula-mula, dari seluruh peserta dibagi menjadi beberapa kelompok -kelompok kecil yang berisikan empat sampai lima orang. Tiap kelompok kemudian didampingi oleh satu orang perwakilan dari kakak-kakak KOPHI. Kemudian, setiap kelompok bertugas untuk membuat empat lubang biopori di lapangan rumput SMA Regina Pacis! 

Dibagi kelompok

Menuju lapangan

Dicontohkan dulu

Baru deh bikin sendiri

     Teriknya matahari tak menyurutkan semangat seluruh anggota FORKOKIR maupun kakak - kakak dari KOPHI untuk turut berpartisipasi dalam rangka mencegah banjir lewat pembuatan biopori ini. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang. Saatnya istirahat sejenak untuk makan siang dan snack. Tak hanya makan, anggota FORKOKIR dan kakak - kakak dari KOPHI juga turut beramah-tamah. Apalagi dengan diadakannya sebuah game seru yang menambah keakraban. 

     Setelah istirahat, pembuatan biopori kembali dilanjutkan. Lubang - lubang yang telah selesai dibuat, kemudian diisi dengan sampah organik yang akan membantu proses penyerapan air sekaligus nantinya akan disulap menjadi pupuk kompos. Akhirnya, lubang biopori pun disemen agar lebih awet dan kuat, serta tidak tertimbun tanah lagi

Lubangnya disemen

Jadinya seperti ini

     Seiring terbenamya sang surya, kebersamaan antara FORKOKIR dan kakak - kakak dari KOPHI pun harus berakhir. Acara pun ditutup dengan foto bersama. Hari yang melelahkan namun sarat makna dan penuh kebahagiaan. Sukses selalu untuk KOPHI dan semoga lubang biopori di SMA Regina Pacis dapat terus dimaksimalkan penggunaannya! 


Bagaimana? Tertarik mencegah banjir dengan biopori? Selain dapat kompos gratis, kalian juga bisa mencegah banjir lho!

Liputan mengenai acara biosafari ini juga dapat dilihat di Gadis, The Student Globe, Sindo, Warta kota, Hijauku, Tribun news, Sinergi muda, Me Asia Magazines, Shunzotech, Pokja AMPL, dan Balok es

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Journey of Science Perkenalkan Beribu Ilmu

     Selasa (08/01/13) lalu, FORKO KIR SMA Regina Pacis Jakarta mengadakan kunjungan ilmiah ke daerah Serpong, Tangerang. Acara kunjungan ini didampingi oleh Pak Heri Purnama dan Bu Evy Anggraeny.
     Kegiatan ini merupakan agenda rutin FORKO KIR yang diadakan setahun sekali. Kunjungan ilmiah yang bertajuk “ Journey of Science” ini memiliki arti penjelajahan ilmu pengetahuan yang ada di sekitar kita. Kali ini, kami menjelajah dunia ilmu pengetahuan yang ada di PUSPIPTEK (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) serta bereksperimen di Rumah Sains Ilma.
     Dengan penuh semangat, kami pun berangkat menuju Serpong tepat pukul 07.30 pagi. Sesampainya di PUSPIPTEK, kami diberikan pengenalan singkat seputar PUSPIPTEK, mulai dari pendirinya yang bernama DR. Soemitrodjoyo Hadikusumo, luas kawasannya yang mencapai 460 hektar, taman provinsi yang memiliki berbagai rumah adat dan tanaman khas dari berbagai daerah, hingga 30 pusat penelitian yang terdapat di sana.
     Setelah pengenalan singkat tersebut, kami pun kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan ke BPPT yang masih terdapat di kawasan PUSPIPTEK. Di sana, kami diperkenalkan dengan berbagai hal seputar bioteknologi tanaman. Mulai dari langkah-langkah memperbanyak tanaman menggunakan metode kultur jaringan, berbagai media tanam yang cocok untuk penanaman kalus, hingga melihat langsung alat fermentasi jamur dalam media cair yang biasa disebut shaker.


     Setelah banyak menimba ilmu di PUSPIPTEK, kami pun menuju Rumah Sains Ilma sambil menikmati makan siang di bus. Tak lama berselang, kami pun tiba di Rumah Sains Ilma. Rumah bertingkat dua ini benar-benar berbeda dari gambaran kami akan laboratorium yang merupakan tempat bereksperimen pada umumnya. Rumah sains ini lebih mirip sebuah rumah tinggal dibanding tempat untuk bereksperimen.
     Saat pertama kali kami menginjakkan kaki di rumah ini, kami langsung disambut oleh Kak Nana, Kak Vina, dan Kak Yasin selaku pengurus Rumah Sains Ilma. Berbagai alat peraga yang yang tertata rapi di ruang utama seketika menarik perhatian kami.
     Setelah puas melihat-lihat, kami pun diajak untuk melihatScience Show yang dipraktekan oleh Kak Vina. Ia menampilkan “Semburan Api Naga”, “Terumbu Karang Instan” , serta “Alarm Anti Luber”. Beberapa anak pun mencoba membuat “Semburan Api Naga” dengan cara meniupkan tepung sagu ke arah sebuah lilin yang menyala. Tepung tersebut langsung menyambar api dan membuat api berkobar layaknya api naga. Sangat menyenangkan!


     Acara pun dilanjutkan dengan percobaan Magic Blue Bottle.Hanya dengan bahan dasar gula halus, methylene blue, soda api dan air, kami pun bisa menyulap air biru menjadi bening. Hal ini dapat terjadi karena adanya reaksi reduksi-oksidasi saat soda air dicampurkan dengan gula halus. Setelah itu, kami pun ditantang untuk menyusun sepuluh paku di atas sebuah paku tanpa bantuan perekat apa pun. Meskipun cukup sulit, kami semua akhirnya berhasil menyelesaikan tantangan tersebut.
     Tak terasa, sudah waktunya bagi kami untuk pulang. Kami pun lekas kembali dan tiba di sekolah kira-kira pukul 16.30 WIB. Perjalanan kali ini sungguh menambah pengetahuan dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi kami masing-masing. Ternyata, sains juga bisa dipelajari dari kejadian sehari-hari dengan cara yang menyenangkan. Sungguh sebuah acara yang sangat tak terlupakan. Sampai jumpa di acara kunjungan berikutnya...... 

(Christine Tjahjadinata / Monica Devi Kristiadi)

Pernah dimuat di : http://www.berani.co.id/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS